Kurikulum
baru pendidikan akan pangkas jumlah mata pelajaran
Jakarta
(ANTARA News) - Kurikulum baru pendidikan nasional yang tengah dipersiapkan
pemerintah bersama tim penyusun nantinya akan memangkas jumlah mata pelajaran
menjadi lebih sedikit sehingga meringankan peserta didik, kata Wamendikbud
bidang Pendidikan Musliar Kasim.
"Jumlah
mata pelajaran yang banyak membebani siswa dan membuat siswa menjadi bosan.
Kurikulum mendatang yang sedang disusun oleh tim terdiri atas para pakar dan
tokoh pendidikan seperti Franz Magnis Suseno, Prof Juwono Sudarsono dan lainnya
akan ditekankan pada model pembelajaran tematik dan lebih mengarah pada
pendidikan karakter," kata Musliar dalam jumpa pers bersama Wamendikbud
bidang kebudayaan Wiendu Nuryanti terkait Gerakan Nasional Pembangunan Karakter
Bangsa di Jakarta, Kamis petang.
"Pendidikan
karakter akan lebih banyak dipelajari siswa di tingkat sekolah dasar dimulai
sejak dini, semakin tinggi jenjangnya pelajaran terkait pendidikan karakter
berkurang dan diganti dengan pelajaran keilmuan," kata Musliar dan
menambahkan perubahan kurikulum tersebut merupakan program besar Kemdikbud
dimulai sejak tahun 2010.
Sementara
itu, Wamendikbud bidang kebudayaan Wiendu Nuryanti mengatakan kurikulum yang
sedang dalam penyusunan tersebut diharapkan akan memberikan perubahan pada
model pembelajaran yang memberikan ruang gerak bagi siswa untuk berekspresi
seluas-luasnya.
"Pembangunan
karakter sebagai sentral dari pendidikan nasional akan disinergikan dengan
kebudayaan untuk menyebarkan virus pembangunan karakter dan targetnya bukan
hanya peserta didik tetapi juga guru dan masyarakat luas yang diwakili oleh
komunitas-komunitas seperti seniman dan budayawan dan sebagainya,"
katanya.
Penyusunan
kurikulum pendidikan nasional yang baru diharapkan rampung pada Februari 2013.
Sebelum disahkan dan diaplikasikan, pemerintah akan melakukan uji publik
terhadap rancangan kurikulum itu untuk memperoleh kritik dan masukan dari
masyarakat.
Kemdikbud
saat ini telah membentuk dua tim, yakni tim pertama bertugas menyusun kurikulum
pendidikan dasar dan menengah. Adapun tim kedua bertugas menyusun kurikulum
pendidikan tinggi.
Tim
penyusun juga mengevaluasi kurikulum yang berlaku saat ini, seperti soal
banyaknya mata pelajaran yang harus dipelajari siswa, jam sekolah, hingga
mencari penyebab mengapa sering terjadi tawuran siswa, rendahnya kemampuan
siswa berbahasa asing, serta berbagai persoalan lain.
Gerakan
Pembangunan Karakter
Lebih
lanjut Wamendikbud Wiendu Nuryanti menjelaskan rencana pemerintah untuk
melaksanakan kegiatan Gerakan Nasional Pembangunan Karakater Bangsa melalui
program penanaman nilai budaya di lingkungan sekolah yang dilaksanakan di 10
provinsi, antara lain DKI Jakarta, Aceh, Banten, Jawa Barat, NTB dan Maluku.
"Selain
menyasar sekolah, gerakan pembangunan karakter juga akan dilaksanakan kepada
masyarakat luas melalui Gerakan Bersih Desa Budaya yang difokuskan pada
desa-desa yang dengan tradisinya masih menjalankan dan menopang karifan lokal,
seperti budaya gotong royong," katanya.
Program
Gerakan Bersih desa pada tahap awal sebagai proyek percontohan dilaksanakan di
enam daerah, yakni Laweyan, Lasem , Setu Babakan, Sasirangan, Pandesikek dan
Cuci Nagari Maluku, katanya.